![]() |
| Mengapa Siswa Sekarang Lebih Takut Nilai Jelek |
Pena Kak Sakti - Menjelang ujian, ada pemandangan yang hampir selalu mudah ditemukan di sekolah. Anak-anak membuka catatan, menghafalkan rumus, bertanya kepada teman tentang kemungkinan soal yang keluar, atau sibuk mencari pola soal dari ujian sebelumnya. Ketika hasilnya dibagikan, perhatian segera tertuju pada satu hal: angka yang tertulis di sudut kertas.
“Dapat berapa?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Bahkan terlalu biasa sampai-sampai kita jarang memikirkan apa yang sebenarnya sedang kita tanyakan kepada anak.
Sebab setelah mengetahui nilainya, kita sering berhenti di sana. Anak mendapat 90, kita senang. Mendapat 60, kita mulai bertanya mengapa nilainya rendah. Tetapi kita jarang melanjutkan dengan pertanyaan yang mungkin justru lebih penting: bagian mana yang sudah ia pahami, bagian mana yang belum, dan apa yang membuatnya kesulitan?
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Nilai sebenarnya bukan musuh dalam pendidikan. Guru membutuhkan nilai untuk membaca perkembangan belajar. Sekolah membutuhkan asesmen untuk melihat capaian siswa. Orang tua juga membutuhkan informasi untuk mengetahui bagaimana anaknya mengikuti pembelajaran.
Persoalannya muncul ketika nilai yang semula menjadi penanda proses belajar berubah menjadi tujuan belajar itu sendiri.
Anak tidak lagi terutama berpikir, “Saya ingin mengerti.”
Yang lebih sering muncul adalah, “Saya harus mendapat nilai bagus.”
Perbedaan kedua kalimat itu tampak kecil. Tetapi dampaknya terhadap cara anak belajar bisa sangat berbeda.
Ketika Angka Menjadi Lebih Penting daripada Apa yang Terjadi di Kepala Anak
Bayangkan seorang siswa mengerjakan soal matematika dengan mengikuti contoh yang diberikan guru. Ia tahu langkah pertama, kedua, dan ketiga. Jawabannya benar. Nilainya bagus.
Tetapi ketika angka-angka dalam soal sedikit diubah, ia kebingungan.
Ini bukan kejadian yang aneh. Kita semua pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda. Menghafal sesuatu untuk ujian memang bisa membuat seseorang tampak menguasai materi, setidaknya untuk sementara. Masalahnya baru terlihat ketika pengetahuan itu harus digunakan dalam situasi yang sedikit berbeda.
Di sini kita berhadapan dengan perbedaan antara mampu menjawab dan memahami.
Keduanya tidak selalu sama.
Siswa yang memahami sesuatu biasanya tidak hanya mengetahui jawabannya. Ia punya gambaran mengapa jawaban itu masuk akal. Ia bisa menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri, menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, atau mencoba cara berbeda ketika cara pertama tidak berhasil.
Semua itu membutuhkan proses.
Dan proses sering kali tidak serapi nilai.
Nilai 90 terlihat jelas. Pemahaman yang tumbuh perlahan tidak selalu terlihat. Nilai 60 mudah dicatat dalam rapor. Keberanian seorang siswa yang semula diam lalu mulai bertanya karena akhirnya berani mengakui kebingungannya jauh lebih sulit diukur.
Mungkin karena itu angka sering terasa lebih meyakinkan daripada proses.
Anak Tidak Tiba-Tiba Takut Mendapat Nilai Jelek
Kita kadang berbicara tentang ketakutan siswa terhadap nilai seolah-olah itu hanya persoalan anak.
Anak terlalu mengejar nilai. Anak terlalu takut gagal. Anak terlalu memikirkan peringkat.
Padahal anak belajar memaknai nilai dari lingkungan di sekitarnya.
Coba perhatikan percakapan sederhana setelah ujian.
“Berapa nilaimu?”
“Delapan puluh.”
“Temanmu berapa?”
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut. Tetapi jika hampir setiap pembicaraan tentang sekolah selalu berakhir pada angka, lama-kelamaan anak dapat belajar bahwa sekolah memang terutama tentang angka.
Ia kemudian mulai mengukur dirinya sendiri dengan cara yang sama.
Nilai bagus membuatnya merasa aman. Nilai turun membuatnya merasa bersalah. Nilai buruk bukan lagi sekadar informasi bahwa ada materi yang belum dikuasai, melainkan bisa terasa seperti penilaian terhadap dirinya sendiri.
Di titik tertentu, seorang anak mungkin tidak lagi takut salah karena jawabannya salah.
Ia takut salah karena kesalahan itu terlihat oleh orang lain.
Dan menurut saya, di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.
Yang Lebih Menakutkan daripada Tidak Paham adalah Terlihat Tidak Paham
Tidak memahami pelajaran sebenarnya merupakan bagian normal dari belajar.
Kalau seorang siswa langsung memahami semua yang diajarkan sejak awal, untuk apa ia perlu belajar?
Kebingungan justru sering menjadi pintu masuk pembelajaran. Dari tidak tahu muncul pertanyaan. Dari pertanyaan muncul usaha mencari jawaban. Dari kesalahan muncul kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir.
Tetapi semua itu membutuhkan satu hal yang sering tidak dibicarakan dalam pembelajaran: rasa aman untuk tidak tahu.
Di kelas, misalnya, guru bertanya, “Ada yang belum paham?”
Kelas diam.
Bukan selalu karena semua siswa sudah mengerti.
Bisa saja ada beberapa anak yang sebenarnya masih bingung, tetapi tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengangkat tangan. Mereka melihat teman-temannya diam, lalu ikut diam. Ketika guru kembali bertanya, mereka mungkin mengangguk.
Pelajaran kemudian berjalan terus.
Anak pulang membawa kebingungannya sendiri.
Besok materi baru datang, dan materi baru itu berdiri di atas materi lama yang belum benar-benar dipahami.
Menariknya, data PISA 2022 juga menunjukkan bahwa bertanya ketika tidak memahami materi belum menjadi kebiasaan banyak siswa. Secara rata-rata di negara-negara OECD, hanya 47 persen siswa yang mengatakan mereka sering bertanya ketika tidak memahami materi matematika. OECD juga menemukan bahwa siswa yang lebih cemas cenderung lebih jarang bertanya ketika tidak memahami materi dibandingkan siswa yang kurang cemas. Ini adalah hubungan statistik, bukan bukti bahwa kecemasan sendirilah yang menyebabkan siswa berhenti bertanya.
Tetapi temuan tersebut cukup untuk membuat kita berhenti sebentar.
Sebab pembelajaran membutuhkan keberanian untuk mengatakan, “Saya tidak mengerti.”
Kalau ruang kelas membuat kalimat itu terasa memalukan, kita sedang menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar nilai ujian.
Kita Menghargai Jawaban yang Benar, tetapi Seberapa Sering Menghargai Cara Berpikir?
Salah satu alasan angka begitu kuat dalam pendidikan adalah karena angka mudah digunakan.
Jawaban benar dapat dihitung. Nilai dapat dijumlahkan. Rapor dapat dibaca. Prestasi dapat dibandingkan.
Pemahaman jauh lebih sulit.
Guru perlu melihat bagaimana siswa sampai pada jawabannya. Apakah ia benar-benar memahami konsep atau hanya menghafal pola? Apakah ia mampu menjelaskan? Apakah ia dapat menggunakan pengetahuan itu dalam persoalan baru? Apakah ia bisa memperbaiki kesalahan setelah mendapatkan umpan balik?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membutuhkan waktu.
Di sinilah guru juga berada dalam situasi yang tidak sederhana. Tidak tepat jika budaya mengejar nilai langsung ditimpakan kepada guru. Guru bekerja dengan jumlah siswa yang berbeda-beda, waktu pembelajaran yang terbatas, target kurikulum, asesmen, administrasi, serta harapan dari sekolah dan orang tua.
Maka persoalannya bukan sekadar, “Guru terlalu mengejar nilai.”
Bisa jadi sistem pendidikan memang membuat nilai menjadi bahasa yang paling mudah digunakan untuk membicarakan keberhasilan.
Dan ketika angka menjadi bahasa utama, sesuatu yang sulit diukur perlahan bisa tersisih: rasa ingin tahu, keberanian bertanya, kemampuan menjelaskan, ketekunan menghadapi kesulitan, bahkan kesediaan untuk mencoba lagi setelah salah.
Tetapi Kita Juga Tidak Bisa Begitu Saja Mengatakan bahwa Nilai Tidak Penting
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Mudah sekali mengatakan kepada siswa, “Jangan terlalu memikirkan nilai.”
Tetapi bagi sebagian anak, nilai memang memiliki konsekuensi nyata.
Nilai dapat berkaitan dengan pilihan sekolah, peluang beasiswa, seleksi pendidikan lanjutan, atau harapan keluarga. Bagi siswa tertentu, nilai bukan sekadar angka di buku rapor. Ada masa depan yang mereka bayangkan di balik angka tersebut.
Karena itu, meminta anak untuk menganggap nilai sama sekali tidak penting juga bukan jawaban.
Pertanyaannya justru lebih sulit:
Jika nilai memang digunakan untuk membuka atau menutup sejumlah kesempatan pendidikan, bagaimana kita meminta anak untuk tidak menganggapnya terlalu penting?
Kontradiksi inilah yang sering kita lewatkan.
Kita ingin anak mencintai proses belajar, tetapi kita juga hidup dalam sistem yang membutuhkan hasil yang dapat dibandingkan. Kita ingin anak berani salah, tetapi ujian tetap meminta jawaban benar. Kita mengatakan bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi angka membuat perbedaan itu terlihat begitu sederhana.
Mungkin karena itu masalahnya bukan menghapus nilai.
Masalahnya adalah memastikan bahwa nilai tidak mengambil seluruh makna dari belajar.
Nilai Bagus Tidak Selalu Berarti Persoalan Belajar Sudah Selesai
Hasil PISA 2022 memberikan gambaran yang patut direnungkan, meskipun tentu tidak bisa digunakan sendirian untuk menilai seluruh kualitas pendidikan Indonesia.
Dalam matematika, hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya Level 2 kecakapan menurut PISA 2022, sementara rata-rata OECD mencapai 69 persen. Pada level tersebut, siswa setidaknya diharapkan mampu mengenali dan merepresentasikan situasi sederhana secara matematis tanpa instruksi langsung.
Angka itu tidak mengatakan bahwa siswa Indonesia tidak belajar. Juga tidak berarti nilai sekolah mereka tidak berarti.
Tetapi data tersebut mengingatkan kita pada satu hal: hasil yang kita peroleh dari satu bentuk penilaian tidak otomatis menggambarkan seluruh kemampuan yang kita inginkan dari seorang pembelajar.
Ini penting karena PISA dan penilaian sekolah memiliki tujuan, desain, dan konteks yang berbeda. Nilai di sekolah tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan skor PISA.
Namun perbedaan itu justru bisa menjadi bahan refleksi.
Kalau seorang anak memperoleh nilai tinggi karena sangat mahir mengerjakan tipe soal yang biasa diberikan, apakah ia juga mampu menggunakan pengetahuan tersebut ketika persoalannya berubah?
Kalau jawabannya belum tentu, mungkin yang perlu kita bicarakan bukan hanya nilai.
Kita perlu membicarakan apa yang sebenarnya kita maksud dengan belajar.
Jangan Sampai Anak Belajar Menghindari Kesalahan, Bukan Belajar dari Kesalahan
Ada perbedaan besar antara dua suasana kelas.
Di kelas pertama, kesalahan dipandang sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki agar nilai tidak turun.
Di kelas kedua, kesalahan dipandang sebagai informasi: dari mana cara berpikir itu muncul, bagian mana yang keliru, dan apa yang bisa dicoba berikutnya?
Keduanya sama-sama ingin siswa mendapatkan jawaban yang benar.
Yang berbeda adalah perjalanan menuju jawaban tersebut.
PISA 2022 menunjukkan bahwa siswa yang sering menggunakan strategi belajar aktif, termasuk bertanya ketika tidak memahami materi, cenderung memiliki hasil matematika yang lebih baik. OECD juga menemukan bahwa siswa yang lebih percaya diri dalam belajar mandiri lebih sering bertanya ketika tidak memahami materi. Hubungan-hubungan ini tidak membuktikan satu arah sebab-akibat, tetapi cukup menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam proses belajar berkaitan dengan hasil belajar.
Artinya, mungkin kita terlalu cepat menganggap pertanyaan siswa sebagai tanda bahwa ia belum mampu.
Padahal pertanyaan bisa menjadi tanda bahwa ia sedang belajar dengan sungguh-sungguh.
Siswa yang berkata, “Bu, saya tidak mengerti bagian ini,” sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mengakui kelemahan. Ia sedang memberi informasi kepada gurunya tentang posisi belajarnya.
Dan dari informasi itulah pembelajaran bisa bergerak.
Mungkin yang Perlu Diubah Bukan Keinginan Mendapat Nilai Bagus
Keinginan mendapat nilai bagus bukan sesuatu yang perlu kita musuhi.
Anak boleh bangga mendapat nilai 90. Orang tua boleh senang melihat hasil belajar anak meningkat. Guru juga tentu boleh merasa puas ketika siswanya berhasil.
Yang perlu kita waspadai adalah ketika angka menjadi satu-satunya cara seorang anak memahami keberhasilannya.
Siswa yang mendapat nilai 90 tetap perlu bertanya, “Apa yang sebenarnya sudah saya kuasai?”
Siswa yang mendapat nilai 60 juga perlu mendapat kesempatan untuk bertanya, “Apa yang belum saya pahami, dan bagaimana saya bisa memperbaikinya?”
Pertanyaan kedua mungkin terdengar sederhana. Tetapi ia mengubah posisi anak dari orang yang sedang menerima penilaian menjadi orang yang ikut membaca proses belajarnya sendiri.
Di situlah pendidikan menjadi lebih menarik.
Anak tidak hanya diberi tahu apakah jawabannya benar atau salah. Ia perlahan belajar memahami bagaimana ia belajar.
Tentu perubahan semacam ini tidak cukup dilakukan dengan meminta guru mengurangi penekanan pada nilai. Orang tua juga memiliki peran besar. Jika setiap kepulangan dari sekolah selalu disambut dengan pertanyaan “Nilaimu berapa?”, anak akan menangkap pesan yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting.
Sesekali mungkin pertanyaannya perlu diganti.
“Apa yang tadi paling sulit?”
“Apa yang baru kamu pahami?”
“Ada bagian yang masih membingungkan?”
“Atau, hari ini kamu menemukan sesuatu yang menarik?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menghapus nilai. Tetapi ia memberi tahu anak bahwa sekolah tidak hanya menghasilkan angka.
Anak Perlu Tempat untuk Mengatakan, “Saya Belum Paham”
Pada akhirnya, mungkin persoalan ini bukan tentang apakah siswa terlalu takut mendapat nilai jelek.
Ketakutan itu hanya gejalanya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa seorang anak merasa bahwa mengatakan “saya belum paham” lebih berbahaya daripada mendapatkan nilai yang buruk?
Kalau ia mendapat nilai rendah, setidaknya ada sesuatu yang bisa kita tindak lanjuti. Kita dapat melihat jawabannya, mencari kesalahannya, lalu memperbaikinya.
Tetapi kalau ia tidak paham dan memilih diam karena takut terlihat tidak tahu, kita bahkan tidak tahu di mana masalahnya berada.
Di situlah pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar asesmen.
Ia membutuhkan ruang yang membuat anak cukup aman untuk salah, cukup percaya diri untuk bertanya, dan cukup sabar untuk memahami bahwa belajar tidak selalu menghasilkan angka yang bagus pada percobaan pertama.
Mungkin kita memang tidak perlu mengajari anak agar berhenti peduli pada nilai.
Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika ia melihat angka 60 di kertas ulangan, ia tidak langsung berpikir, “Saya bodoh.”
Ia bisa mengatakan, “Ada sesuatu yang belum saya pahami.”
Perbedaannya tampak kecil.
Tetapi mungkin, justru di antara dua kalimat itulah kita bisa melihat apakah seorang anak sedang belajar mengejar nilai atau sedang belajar memahami sesuatu.
