![]() |
| Ketika Belajar Hanya Berarti Menghafal Materi |
Pena Kak Sakti - Menjelang ujian, suasana belajar di banyak rumah biasanya berubah. Buku yang semula jarang disentuh tiba-tiba terbuka di meja, catatan diperiksa kembali, rumus dihafalkan, dan definisi diulang sampai terasa akrab di kepala. Ada yang membuat rangkuman, ada yang menghafalkan poin-poin penting, ada pula yang sibuk mencari soal tahun-tahun sebelumnya.
Lalu ujian selesai.
Nilai keluar. Ada yang tersenyum karena nilainya bagus, ada yang kecewa karena hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah beberapa minggu berlalu, sebagian materi yang dulu terasa begitu penting perlahan menghilang dari ingatan. Ketika konsep yang sama muncul dalam pertanyaan dengan bentuk berbeda, tidak sedikit siswa yang kembali bertanya, “Caranya bagaimana, ya?”
Di titik itu, kita mungkin perlu bertanya lebih jauh: sebenarnya apa yang kita maksud dengan belajar?
Menghafal tentu bukan sesuatu yang salah. Ada pengetahuan yang memang perlu diingat. Anak perlu mengetahui perkalian dasar, mahasiswa perlu mengenal istilah dalam bidang ilmunya, dan calon guru perlu menguasai konsep-konsep tertentu sebelum dapat menggunakannya dalam situasi yang lebih kompleks.
Persoalannya muncul ketika mengingat menjadi tujuan akhir.
Ketika siswa dianggap sudah belajar hanya karena mampu mengembalikan informasi yang pernah diberikan guru, pendidikan perlahan berubah menjadi kegiatan memindahkan materi dari buku ke kepala, lalu dari kepala ke lembar jawaban.
Yang mudah diukur akhirnya terlihat lebih penting daripada yang sebenarnya ingin dibentuk.
Ketika Nilai Menjadi Tujuan Belajar
Di kelas, ada pertanyaan siswa yang terdengar sangat biasa: “Ini keluar di ujian, Bu?”
Pertanyaan itu sebenarnya masuk akal. Siswa tahu bahwa tugas, ujian, dan nilai akan memengaruhi rapor, kelulusan, bahkan dalam konteks tertentu pilihan pendidikan berikutnya. Mereka belajar membaca apa yang dianggap penting oleh sistem.
Guru pun tidak selalu berada dalam posisi yang sederhana. Ada materi yang harus selesai, tujuan pembelajaran yang harus dicapai, asesmen yang perlu disiapkan, dan waktu yang terbatas. Dalam kondisi tertentu, meminta siswa menguasai materi lalu mengujinya menjadi cara yang paling praktis untuk melihat apakah pembelajaran berlangsung.
Tetapi sesuatu yang mudah diukur belum tentu merupakan sesuatu yang paling penting.
Seorang siswa bisa mendapatkan nilai tinggi karena mampu mengingat definisi, rumus, atau langkah penyelesaian soal. Namun nilai tersebut belum otomatis memberi tahu kita apakah ia memahami mengapa sebuah konsep bekerja, kapan konsep itu dapat digunakan, atau bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan ketika situasinya berubah.
Di sinilah persoalannya mulai menjadi rumit. Kita membutuhkan pengetahuan yang tersimpan di kepala, tetapi pendidikan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menyimpan pengetahuan.
Masalahnya Terlihat Ketika Pertanyaan Berubah
Bayangkan seorang siswa sudah hafal rumus luas lingkaran: πr².
Ketika guru memberikan jari-jari lingkaran dan meminta luasnya dihitung, ia dapat mengerjakan. Langkah-langkahnya sudah tersimpan dengan baik.
Tetapi bagaimana jika pertanyaannya berubah?
Bagaimana jika siswa diminta menjelaskan mengapa rumus tersebut dapat digunakan? Bagaimana jika ia harus memperkirakan luas meja berbentuk lingkaran dengan alat ukur yang terbatas? Atau bagaimana jika ia diminta menjelaskan kepada temannya mengapa lingkaran dengan jari-jari dua kali lebih besar memiliki luas yang bukan sekadar dua kali lipat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak serta-merta membutuhkan hafalan tambahan. Yang dibutuhkan adalah pemahaman dan kemampuan menggunakan pengetahuan.
Perbedaan ini penting karena kehidupan tidak selalu memberikan persoalan dalam bentuk yang sama persis seperti contoh di buku.
Siswa yang terbiasa menghafal pola soal dapat terlihat sangat siap ketika berhadapan dengan pertanyaan yang sudah dikenalnya. Namun ketika angka berubah, konteks berganti, atau persoalan tidak memiliki langkah penyelesaian yang langsung terlihat, ia bisa kehilangan pegangan.
Bukan berarti siswa tersebut tidak mampu berpikir. Bisa jadi selama ini ia memang lebih sering dilatih untuk menemukan jawaban daripada memahami persoalan.
Pendidikan akhirnya perlu mengajarkan bukan hanya bagaimana menjawab pertanyaan, tetapi juga bagaimana memahami pertanyaan.
Kita Sering Mengajarkan Jawaban Sebelum Mengajarkan Rasa Ingin Tahu
Di sekolah, siswa sering diminta aktif bertanya. Tetapi menariknya, kita kadang memberi mereka begitu sedikit ruang untuk menemukan pertanyaan sendiri.
Materi sudah ditentukan. Jawaban sudah tersedia. Bentuk soal sudah dikenal. Bahkan kadang siswa mengetahui bahwa ada cara tertentu untuk menjawab karena cara itulah yang pernah dicontohkan guru.
Akibatnya, pertanyaan “Jawabannya apa?” bisa terasa lebih penting daripada “Mengapa jawabannya begitu?”
Padahal rasa ingin tahu sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Mengapa harga barang berubah? Mengapa tanaman di tempat tertentu tumbuh lebih baik daripada di tempat lain? Mengapa sebuah kebijakan sekolah menghasilkan reaksi yang berbeda dari siswa? Mengapa satu metode belajar berhasil untuk seorang anak tetapi tidak bagi anak yang lain?
Tidak semua pertanyaan seperti itu mempunyai jawaban yang bisa ditemukan dalam satu halaman buku.
Justru karena itulah pertanyaan tersebut menarik.
Belajar menjadi lebih hidup ketika siswa tidak hanya berusaha menemukan jawaban yang benar, tetapi mulai merasa perlu memahami sesuatu yang sebelumnya belum ia mengerti.
Yang Bisa Dilakukan dengan Pengetahuan
Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan memahami menjadi semakin penting.
Seseorang mungkin mengetahui sebuah konsep, tetapi belum tentu mampu menjelaskannya dengan bahasanya sendiri. Ia mungkin mengingat teori, tetapi belum tentu mampu melihat bagaimana teori tersebut berhubungan dengan persoalan yang ditemuinya.
Mahasiswa, misalnya, bisa menghafal teori tentang motivasi belajar dengan sangat baik. Tetapi ketika berhadapan dengan seorang siswa yang kehilangan minat belajar, persoalannya tidak datang dalam bentuk soal ujian. Tidak ada empat pilihan jawaban yang tinggal dipilih.
Ia harus mengamati, mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan kemungkinan penyebab, lalu menentukan tindakan yang masuk akal.
Begitu pula dengan lulusan sekolah yang kelak bekerja. Dunia kerja tidak selalu memberi masalah yang sudah dikelompokkan berdasarkan bab pelajaran. Masalah datang bercampur: informasi tidak lengkap, waktu terbatas, kepentingan berbeda, dan kadang tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua keadaan.
Karena itu, pengetahuan memang perlu dimiliki. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dapat dilakukan seseorang dengan pengetahuan yang ia miliki?
Data PISA Tidak Membuktikan Semuanya, Tetapi Layak Membuat Kita Bertanya
Pertanyaan tentang kemampuan menggunakan pengetahuan bukan sekadar persoalan teori.
Dalam PISA 2022, OECD menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam matematika, membaca, dan sains, termasuk bagaimana mereka menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan. Di Indonesia, 18 persen siswa mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, sementara sekitar 25 persen mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca. Pada level tersebut, siswa setidaknya mulai mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami situasi sederhana, menemukan informasi, atau melakukan tugas yang tidak semata-mata mengulang informasi.
Sumber: OECD – PISA 2022 Results: Indonesia (https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html)
Angka itu tentu tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa budaya hafalan adalah penyebab tunggal rendahnya capaian siswa Indonesia. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: kesenjangan sosial-ekonomi, kualitas lingkungan belajar, sumber daya sekolah, proses pembelajaran, serta berbagai gangguan yang terjadi selama periode pandemi.
Namun data tersebut tetap memberi alasan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik: seberapa sering siswa mendapatkan kesempatan untuk menggunakan apa yang mereka pelajari?
Pertanyaan itu berbeda dengan “Apakah semua materi sudah selesai?”
Materi yang selesai diajarkan belum tentu berarti pengetahuan sudah menjadi milik siswa. Siswa mungkin pernah mendengar sebuah konsep, mencatatnya, bahkan mendapatkan nilai bagus dalam ujian. Tetapi pengalaman belajar baru benar-benar memiliki jejak ketika pengetahuan itu dapat digunakan untuk membaca keadaan yang sedikit berbeda dari contoh yang pernah diberikan.
Mungkin di sinilah kita perlu melihat persoalannya dari sudut yang lain.
Bukan berapa banyak materi yang sudah disampaikan, melainkan apa yang terjadi pada pengetahuan itu setelah keluar dari ruang kelas.
Guru Juga Terjebak dalam Persoalan yang Sama
Membicarakan budaya hafalan sering kali berakhir dengan kritik kepada guru. Seolah-olah guru tinggal mengubah metode mengajar, lalu persoalan selesai.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Guru bekerja dalam kondisi yang sangat konkret. Ada jumlah siswa yang harus dilayani, waktu pembelajaran yang terbatas, tuntutan administrasi, target pembelajaran, kebutuhan asesmen, dan kemampuan siswa yang berbeda-beda dalam satu kelas.
Pembelajaran berbasis diskusi, eksperimen, proyek, pemecahan masalah, atau eksplorasi memang dapat membuka ruang bagi siswa untuk menggunakan pengetahuan. Tetapi semua itu membutuhkan waktu, perencanaan, pengelolaan kelas, dan dukungan yang memadai.
Karena itu, perubahan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada guru, “Jangan terlalu banyak mengajar dengan hafalan.”
Ada pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana sistem penilaian memperlakukan pembelajaran semacam itu?
Jika siswa tahu bahwa yang menentukan hasil akhirnya terutama adalah kemampuan menjawab soal tertentu, mereka akan menyesuaikan cara belajarnya. Guru pun akan mempertimbangkan hal yang sama.
Kita bisa meminta siswa berpikir kritis, tetapi jika yang paling dihargai tetap jawaban yang cepat dan tepat sesuai pola, siswa akan belajar bahwa berpikir terlalu jauh justru bisa membuat mereka kehilangan waktu.
Di sinilah persoalannya bukan lagi sekadar metode mengajar. Ada hubungan antara apa yang kita katakan penting dalam pendidikan dan apa yang benar-benar kita beri penghargaan.
Ketika Kesalahan Tidak Lagi Terlihat sebagai Bagian dari Belajar
Budaya yang terlalu menekankan jawaban benar juga dapat melahirkan kebiasaan lain: siswa menjadi takut salah.
Padahal belajar hampir selalu melibatkan kesalahan.
Seorang siswa mencoba menyelesaikan soal dengan cara tertentu. Jawabannya keliru. Jika pembelajaran hanya melihat hasil akhir, peristiwa itu selesai dengan tanda silang merah.
Tetapi jika guru melihat proses berpikirnya, kesalahan tersebut justru dapat menjadi bahan pembelajaran.
Mengapa ia memilih langkah itu? Bagian mana dari konsep yang belum dipahami? Apa yang membuat ia sampai pada kesimpulan tersebut?
Pertanyaan seperti itu jauh lebih informatif daripada sekadar mengetahui bahwa jawabannya salah.
Sayangnya, siswa yang terlalu sering mengalami bahwa kesalahan hanya berujung pada nilai rendah bisa belajar satu hal yang tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran: lebih aman menunggu jawaban daripada mencoba.
Padahal kemampuan berpikir membutuhkan keberanian untuk mencoba kemungkinan, menemukan kekeliruan, lalu memperbaikinya.
Kalau ruang kelas hanya memberi penghargaan kepada jawaban yang sudah benar, kita mungkin sedang mengajarkan siswa untuk menghindari kesalahan, bukan belajar dari kesalahan.
Apa yang Tersisa Setelah Materi Dilupakan?
Ada sesuatu yang menarik tentang ingatan manusia: tidak semua yang kita pelajari akan tinggal selamanya dalam bentuk yang sama.
Sebagian rumus akan terlupa. Beberapa tanggal akan kabur. Definisi yang dulu kita hafal mungkin tidak lagi bisa kita ucapkan persis seperti di buku.
Dan itu bukan berarti seluruh proses belajar menjadi sia-sia.
Yang lebih penting adalah apa yang masih tertinggal setelah detail-detail itu memudar.
Seseorang mungkin tidak lagi mengingat seluruh langkah dalam sebuah teori, tetapi masih memiliki kebiasaan untuk memeriksa alasan sebelum menerima sebuah kesimpulan. Seorang siswa mungkin lupa rumus tertentu, tetapi masih tahu bahwa ketika menghadapi persoalan, ia perlu mencari informasi, membuat perkiraan, dan menguji apakah jawabannya masuk akal.
Di situlah pendidikan meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada hafalan.
Pengetahuan tetap penting karena tanpa pengetahuan kita tidak punya bahan untuk berpikir. Tetapi pendidikan menjadi lebih berarti ketika pengetahuan itu perlahan berubah menjadi cara melihat sesuatu.
Mungkin itulah sebabnya pertanyaan tentang belajar seharusnya tidak berhenti pada “Berapa banyak yang sudah kamu hafal?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: ketika buku sudah ditutup dan sebagian materi mulai dilupakan, cara berpikir apa yang masih tinggal dalam diri seorang siswa?
Sebab mungkin pada akhirnya, yang paling penting dari belajar bukan seberapa banyak jawaban yang mampu kita simpan, melainkan apakah kita menjadi lebih mampu memahami pertanyaan yang belum pernah kita temui sebelumnya.
