![]() |
| Pekerjaan Rumah Justru Membuat Anak Membenci Belajar |
Pena Kak Sakti - Ada pemandangan yang cukup sering terjadi menjelang malam di rumah-rumah yang memiliki anak usia sekolah. Buku terbuka di meja, pensil berserakan, tetapi anak justru memandangi soal matematika tanpa benar-benar mengerjakannya. Sesekali ia menghela napas, lalu bertanya, "Masih banyak?"
Di sisi lain meja, orang tua mulai kehilangan kesabaran.
"Kerjakan dulu PR-nya."
Kalimat itu terdengar biasa. Hampir seperti bagian dari rutinitas keluarga. Tetapi kalau keadaan semacam ini terjadi berulang-ulang, mungkin ada sesuatu yang perlu kita tanyakan kembali: kapan pekerjaan rumah berhenti menjadi bagian dari proses belajar dan mulai terasa seperti beban yang harus segera diselesaikan?
Pertanyaan ini bukan berarti pekerjaan rumah selalu buruk. Ada PR yang memang membantu anak mengulang pelajaran, melatih keterampilan, membangun kebiasaan belajar, atau memberi kesempatan kepada guru untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak ada pekerjaan rumah, melainkan apakah tugas tersebut masih memiliki tujuan belajar yang jelas dan masuk akal bagi anak yang mengerjakannya.
Sebab bagi orang dewasa, selembar tugas mungkin hanya terlihat sebagai beberapa soal yang harus diselesaikan. Bagi anak, pengalaman itu bisa terasa sangat berbeda.
Ketika Belajar Berubah Menjadi Kewajiban yang Harus Segera Diselesaikan
Anak sebenarnya tidak selalu membenci belajar. Yang mungkin mereka tolak adalah pengalaman yang menyertai kegiatan belajar tersebut.
Bayangkan seorang anak pulang sekolah setelah mengikuti pelajaran sejak pagi. Ia sudah menghabiskan berjam-jam di kelas, berpindah dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran lain, mengikuti aturan sekolah, mengerjakan latihan, dan berinteraksi dengan teman. Sesampainya di rumah, ia masih harus membuka buku dan menyelesaikan tugas.
Pada titik tertentu, belajar dapat terasa bukan lagi sebagai kegiatan menemukan sesuatu, melainkan pekerjaan yang belum selesai.
Perbedaannya memang tampak kecil, tetapi pengalaman semacam itu patut diperhatikan. Anak bisa saja mengerjakan tugas karena ingin memahami pelajaran. Namun ia juga bisa mengerjakannya semata-mata agar tugas selesai, tidak dimarahi, atau bisa segera melakukan hal lain yang lebih ia sukai.
Kalau pola kedua terus berulang, kita perlu bertanya: apakah yang sedang dibangun sebenarnya kebiasaan belajar atau sekadar kebiasaan menyelesaikan kewajiban?
Belajar tentu membutuhkan ketekunan. Tidak semua hal yang dipelajari menyenangkan. Anak juga perlu belajar menghadapi tugas yang sulit dan menyelesaikan sesuatu yang tidak selalu mereka sukai. Tetapi ada perbedaan antara melatih ketekunan dan membuat kegiatan belajar hampir selalu terasa sebagai tekanan.
Masalahnya Tidak Selalu Terletak pada PR
Menyalahkan pekerjaan rumah saja tentu terlalu sederhana.
Ada anak yang tetap menikmati belajar meskipun mendapat tugas. Ada pula anak yang sudah kehilangan minat belajar meskipun jumlah PR-nya sedikit. Artinya, pekerjaan rumah bukan satu-satunya hal yang menentukan hubungan seorang anak dengan belajar.
Cara guru memberikan tugas, tingkat kesulitan materi, suasana kelas, kemampuan anak, dukungan orang tua, waktu istirahat, dan pengalaman ketika melakukan kesalahan semuanya dapat ikut membentuk pengalaman belajar.
Seorang anak yang memahami materi mungkin menganggap sepuluh soal sebagai latihan biasa. Anak yang belum memahami konsep dasarnya dapat melihat sepuluh soal yang sama sebagai tembok yang sulit dilewati.
Di sinilah persoalannya menjadi sedikit lebih rumit.
Ketika seorang anak berkata, "Saya tidak mau mengerjakan PR," kita sering tergoda menyebutnya malas. Padahal, ada banyak kemungkinan di balik penolakan tersebut. Ia mungkin tidak tahu harus mulai dari mana, takut jawabannya salah, belum memahami instruksi, sedang lelah, atau memang sedang tidak ingin mengerjakan tugas.
Bisa juga ia sebenarnya membutuhkan bantuan.
Karena itu, kalimat "Saya tidak mau mengerjakan PR" tidak selalu berarti "Saya tidak mau belajar". Dalam beberapa keadaan, bisa jadi itu adalah tanda bahwa pengalaman belajar yang sedang dihadapinya terasa terlalu sulit atau tidak lagi bermakna baginya.
Perbedaan kecil dalam cara melihat perilaku anak semacam ini penting. Bukan untuk membenarkan setiap penolakan, melainkan agar kita tidak terlalu cepat memberikan label sebelum memahami persoalannya.
Ketika Orang Tua Ikut Menjadi Guru di Rumah
Ada persoalan lain ketika pekerjaan rumah dibawa pulang: batas antara sekolah dan rumah menjadi semakin kabur.
Orang tua akhirnya ikut mengambil peran sebagai guru.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan mendampingi anak belajar. Dukungan keluarga justru penting. Tetapi pendampingan bisa berubah menjadi tekanan ketika hubungan orang tua dan anak hampir selalu berpusat pada tugas sekolah.
Orang tua bertanya, "PR sudah selesai?" lebih sering daripada bertanya, "Hari ini ada cerita apa di sekolah?"
Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk berbicara tentang pengalaman anak di sekolah berubah menjadi sesi mengejar tugas. Orang tua mulai menghitung waktu, anak mulai melihat jam, dan keduanya sama-sama berharap pekerjaan itu cepat selesai.
Anak kemudian dapat menangkap pesan yang sebenarnya tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran: bahwa waktu di rumah pun masih menjadi perpanjangan dari tuntutan sekolah.
Lebih rumit lagi ketika orang tua harus menjelaskan materi dengan cara yang berbeda dari apa yang dipelajari anak di sekolah. Istilah berubah, metode berubah, dan apa yang dulu dianggap mudah oleh orang tua belum tentu dijelaskan dengan cara yang sama kepada anak.
Tidak mengherankan jika pekerjaan rumah kadang bukan hanya menjadi persoalan akademik. Ia dapat ikut memengaruhi suasana hubungan antara anak dan orang tua.
Padahal rumah semestinya tidak hanya menjadi tempat kedua untuk menyelesaikan tuntutan sekolah. Rumah juga seharusnya menjadi tempat anak bercerita, bertanya, beristirahat, dan merasa aman ketika belum memahami sesuatu.
Apakah Banyak PR Berarti Anak Lebih Banyak Belajar?
Pertanyaan ini layak dipikirkan karena kita sering memiliki anggapan yang cukup sederhana: semakin banyak latihan, semakin banyak pula pembelajaran yang terjadi.
Logikanya memang terlihat masuk akal. Jika sepuluh soal dapat melatih kemampuan, bukankah dua puluh soal akan membuat kemampuan itu semakin baik?
Belum tentu.
Pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh jumlah tugas. Yang juga penting adalah apakah tugas tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran, dapat dikerjakan anak dengan tingkat tantangan yang wajar, dan memberi kesempatan bagi mereka untuk memahami kesalahan.
Lembar kerja yang panjang belum tentu menghasilkan pemahaman yang dalam.
Sebaliknya, sebuah tugas yang dirancang dengan baik dapat membuat anak berpikir lebih lama daripada puluhan soal yang dikerjakan secara mekanis.
Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang lebih besar dalam pendidikan: sesuatu yang mudah dilihat sering kali lebih mudah dianggap sebagai bukti keberhasilan.
Tugas yang selesai bisa diperiksa. Buku yang penuh bisa ditunjukkan. Lembar jawaban bisa dikumpulkan.
Sementara itu, pemahaman tidak selalu tampak.
Rasa ingin tahu tidak memiliki kolom tanda tangan. Proses berpikir tidak selalu meninggalkan banyak halaman. Anak yang tiba-tiba memahami sebuah konsep mungkin hanya diam beberapa menit sebelum berkata, "Oh, ternyata begitu."
Karena itu, kita perlu membedakan antara anak yang sibuk belajar dan anak yang benar-benar belajar.
Keduanya dapat terlihat sama dari luar. Anak sama-sama duduk di depan buku. Bedanya, yang satu mungkin sedang memahami konsep, sementara yang lain hanya menghitung berapa soal yang masih tersisa.
Anak Juga Membutuhkan Jarak dari Sekolah
Ada kecenderungan untuk melihat waktu anak di luar sekolah sebagai ruang kosong yang harus diisi dengan kegiatan produktif.
Setelah sekolah ada les. Setelah les ada PR. Setelah PR mungkin ada latihan tambahan. Ketika semuanya selesai, barulah anak mempunyai waktu untuk melakukan hal lain.
Padahal tidak semua waktu yang tidak diisi tugas adalah waktu yang terbuang.
Anak membutuhkan kesempatan untuk bermain, berbicara, membaca sesuatu yang ia pilih sendiri, menggambar, membantu orang tua, berinteraksi dengan teman, atau sekadar beristirahat tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu.
Ini bukan berarti semua kegiatan tersebut otomatis lebih penting daripada belajar. Persoalannya adalah apakah seluruh waktu anak harus selalu diubah menjadi waktu belajar formal.
Rasa ingin tahu justru tidak selalu muncul ketika anak sedang duduk dengan buku pelajaran. Kadang pertanyaan muncul ketika ia bermain. Kadang ketika ia membaca sesuatu yang tidak diwajibkan sekolah. Kadang ketika ia melihat kejadian sederhana di jalan lalu bertanya kepada orang tuanya, "Kenapa begitu?"
Pengalaman semacam itu mungkin tidak masuk ke dalam buku tugas. Tetapi ia tetap bagian dari proses seorang anak mengenal dunia.
Mungkin di sinilah kita perlu berhati-hati: jangan sampai karena terlalu ingin membuat anak rajin belajar, kita justru menghilangkan ruang yang memungkinkan mereka menemukan alasan untuk ingin belajar.
Lalu, Haruskah PR Dihapus?
Tidak harus.
Pertanyaan yang lebih menarik justru: untuk apa PR itu diberikan?
Jika sebuah tugas diberikan hanya karena siswa dianggap harus membawa pekerjaan untuk dikerjakan di rumah, kita patut mempertanyakan manfaatnya. Tetapi jika tugas tersebut memiliki tujuan yang jelas misalnya memberi kesempatan berlatih atau membantu anak menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari pekerjaan rumah dapat memiliki fungsi yang berarti.
Jadi, persoalannya bukan sekadar berapa banyak PR yang diberikan, melainkan apa yang sebenarnya ingin dicapai melalui tugas tersebut.
Guru tentu memiliki pertimbangan sendiri. Mereka bekerja dalam kondisi kelas yang beragam, dengan tuntutan kurikulum, asesmen, target pembelajaran, dan keterbatasan waktu. Karena itu, persoalan pekerjaan rumah tidak adil jika dibebankan hanya kepada guru.
Orang tua juga memiliki peran. Sekolah memiliki tanggung jawab. Kebijakan pendidikan ikut membentuk cara belajar. Bahkan budaya masyarakat tentang apa yang disebut "anak rajin" turut memengaruhi semuanya.
Barangkali kita terlalu lama menganggap anak yang membawa banyak tugas sebagai anak yang sedang belajar keras, padahal dari jumlah pekerjaan yang dibawa pulang saja kita tidak bisa mengetahui seberapa banyak pemahaman yang tumbuh di kepalanya.
Kadang tugas yang lebih sedikit justru memberi ruang untuk berpikir lebih dalam.
Dan kadang tidak memberikan tugas tambahan sama sekali dapat menjadi keputusan yang masuk akal apabila tujuan pembelajaran hari itu memang sudah tercapai.
Jangan Sampai Anak Belajar Menyelesaikan Tugas, tetapi Lupa Mengapa Ia Belajar
Ada ironi yang mungkin tidak selalu kita sadari.
Kita memberi anak pekerjaan rumah dengan harapan mereka menjadi lebih rajin belajar. Namun jika tugas diberikan tanpa cukup memperhatikan tujuan, kemampuan, waktu istirahat, dan pengalaman belajar anak, pekerjaan tersebut dapat kehilangan makna yang semula diharapkan.
Anak mengerjakan PR.
Tugas terkumpul.
Nilai mungkin tetap baik.
Tetapi semua itu belum otomatis menjawab pertanyaan yang lebih penting: apakah anak memahami apa yang sedang dipelajarinya, dan apakah ia masih memiliki rasa ingin tahu setelah tugas tersebut selesai?
Pendidikan tentu bukan sekadar membuat anak mampu menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kita berharap mereka tumbuh menjadi orang yang mau bertanya, mampu menghadapi kesulitan, berani mengakui ketika belum memahami sesuatu, dan tidak takut mempelajari hal baru.
Karena itu, pekerjaan rumah seharusnya dilihat bukan hanya dari apakah tugas itu selesai, tetapi juga dari pengalaman belajar yang ditinggalkannya.
Sebab pekerjaan rumah bisa selesai malam itu.
Nilai bisa dicatat besok pagi.
Tetapi cara seorang anak memandang belajar dapat terbentuk dari pengalaman-pengalaman kecil yang terus berulang.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan berapa banyak soal yang berhasil kita selesaikan bersama anak malam ini, melainkan apakah setelah semua buku ditutup, ia masih memiliki keinginan untuk membuka buku itu lagi suatu hari nanti.
